SONOKELING

Kayu Indah dari Indonesia yang Perlu Dibudidayakan

 

 

Log Sonokeling 03Sonokeling adalah kayu yang memiliki nilai komersial yang tinggi. Coraknya yang indah membuat permintaan pasar semakin banyak. Namun karena pertumbuhannya yang tidak cepat maka jumlah pohon sonokeling di Indonesia semakin sedikit. Apalagi sonokeling dengan diameter besar.

Oleh karena itu saat ini kita dipaksa untuk memanfaatkan sonokeling yang ada. Lebih sering dengan diameter yang tidak besar. Mengingat sonokeling dengan diameter besar harganya sudah amat tinggi karena menjadi konsumsi industri besar atau kolektor. Akhirnya pohon dengan diameter (hitamnya saja) diatas 20cm pun dimanfaatkan. Bahkan diameter lebih kecil dari 20cm pun tetap dipergunakan.

Tidak seperti kayu yang lain, bagian sonokeling yang digunakan hanya bagian tengah yang berwarna lebih gelap (teras). Bagian pinggir (gubal) atau yang berwarna lebih terang (putih) biasanya dibuang atau tidak diinginkan. Namun demikian masih ada juga yang mampu memanfaatkan sisa olahan sonokeling termasuk bagian yang berwarna putih sebelum nanti turunan atau sisa olahan masuk sebagai bahan bakar tungku.

Gubal TerasBagian hitam (Teras) sonokeling lebih sering tidak berbentuk silidris sempurna. Kadangkala pada batang kayu yang lurus dan besarpun bagian hitamnya ada yang mengecil ditengah.  Hal ini
menyebabkan naiknya harga jual produk-akhirnya nanti. Apakah berupa papan (Rough Sawn Timber – RST) maupun mebel, flooring atau produk lainnya. Log atau gelondong dibeli atas dasar luas penampang ujung dikalikan panjang. Sementara kita tidak bisa melihat kondisi ditengah tengah log apakah bagian yang berwarna hitam tersebut sama besarnya dengan yang diujung. Itu artinya kita juga membayar bagian yang nantinya terbuang.Kondisi tengah (Teras) yang mengecil ditengan bukan satu satunya hal yang perlu diperhatikan. Masih ada kelurusan batang, cacat kayu lain seperti “kuku macan”, mata, lubang, pecah dan lain sebagainya yang dapat terjadi karena sifat kayu itu sendiri atau akibat penanganan dalam produksi.

Papan 03Sonokeling tidak hanya dikagumi dan diinginkan oleh bangsa kita saja. Bangsa lain juga banyak yang menginginkannya karena coraknya yang indah. Saat ini permintaan kayu sonokeling dari China sedang tinggi (Mei 2014). Namun kita tidak diperkenankan mengirimkan sonokeling dalam bentuk log atau gelondong keluar Indonesia. Sonokeling hanya boleh diekspor dalam bentuk kayu olahan dengan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 64/M-DAG/PER/10/2012.

 

DecorativeProfilePost dan BeamYang biasa dikirim ke Cina adalah “Decorative Profile” (DP) dan “Post dan Beam”(PB). Keduanya dibatasi dengan luas penampangnya. Untuk Decorative Profile (DP) maksimal luas penampang adalah 12.750mm2. Sedangkan untuk “Post dan Beam” luas penampang terbesar yang diperkenankan adalah 14.400mm2.

Sebenarnya masih ada produk – produk lain yang boleh diekspor. Pada kesempatan yang lain akan kami bahas. Namun dua item tersebut yang paling disukai. Kita lanjutkan mengenai masalah batasan atau kesepakatan grade atau standar yang biasanya dipakai dipasaran.

Di lapangan batasan grade mulai berubah atau lebih tepatnya menyesuaikan dengan “stok” yang tersedia. Hal ini juga hamper sama dengan Kayu Jati dulu. Pada saat kita memiliki stok yang banyak, kita masih dapat mengikuti standar yang berlaku secara baku. Namun sekarang sudah tidak dapat lagi karena permasalahan ketersedianya.

Log Sonokeling 05Mari kita mulai perhatikan dari Log atau gelondongnya. Yang dapat kita amati adalah kelurusan batang kayunya, Cacat yang terlihat dari luar, Bulat atau tidaknya kayu teras dilihat dari penampang ujung atau pangkal. Bentuk penampang pangkal seperti belimbing atau bundar, dan warna kayu terasnya.

Namun bila kita mencoba melihat satu tahap proses kebelakang, yaitu proses pemilihan pohon yang ditebang maka kita tidak dapat melihat warna kayu tanpa melukainya. Artinya warna menjadi unsur keberuntungan bagi si pembeli pohon. Kalau dia beruntung maka akan mendapatkan warna yang diharapkan atau sesuai dengan permintaan. Oleh karenanya, jarang sekali penjual mau melayani pembeli yang menentukan warna. Apakah warna terang kekuningan atau warna gelap keunguan sama sama tidak dapat ditebak dengan akurat. Nah satu poin, unsure warna tidak dapat dimasukkan dalam criteria grade saat ini.

S4S 01Berkaitan dengan yang terlihat dari luar adalah cacat kayu. Cacat yang sudah terlihat dari luar akan mempengaruhi kondisi serat kayu didalamnya. Namun dalam penggunaan tertentu justru cacat tersebut diharapkan. Untuk bahan – bahan yang membutuhkan dekorasi seperti Gitar, Pena, Cue (Stik Bilyard), Gagang Pisau, Popor Senjata dan lain sebagainya. Serat yang terpilin dan corak yang unik tersebut justru dianggap indah. Bahkan kadang ada yang bersedia membayar lebih tinggi. Padahal bagi keperluan umum untuk mebel atau flooring hal semacam itu dihindari. Oleh karena itu, penebang atau pembeli perlu tahu kegunaan kayunya nanti. Dengan demikian dapat mengatur cara pemotongan log nya dengan tepat.

Saat ini Penjualan sonokeling ke Cina menggunakan standar “All Grade” yang artinya semua cacat tidak boleh terlihat pada satu permukaan (muka) namun boleh ada pada permukaan yang lain. Mata mati tidak lubang dan tembus, mata hidup, kuku macan. Warna putih atau gubal dibagian muka masih diperkenankan sebesar 1 cm dari lebar yang tercantum dalam invoice. Kayu dikirim tanpa di oven atau di kiln dry.

Idealnya si pembeli meminta tanpa ada putih di satu muka namun si penjual cenderung meminta toleransi agar diterima putih di satu muka. Mengingat kondisi kayu tidak selalu lurus dan baik. Pada akhirnya, semua tergantung pula pada harga yang disepakati. Gambar berikut memberikan gambaran mengenai toleransi putih tersebut:

 
Bhn s4s 04Bhn s4s 03Bhn s4s 02Bhn s4s 01

Pada gambar 01 terlihat dua papan sonokeling. Yang satu dalam kondisi yang baik dan yang satu terdapat cacat retak dan pecah pada permukaannya. Kondisi ini sekarang diterima asal retak tidak tembus.

Pada gambar 02 terlihat rencana pomotongan yang akan dilakukan. Pada potongan tersebut masih terdapat bagian putih yang dimasukkan. Kondisi ini umumnya masih dapat diterima pembeli dengan harga pasaran yang ada sekarang. Namun ada juga pembeli yang tidak memperkenankan hal ini. Terlihat pada gambar 03. Dan jadinya seperti pada gambar nomor 04. Tentunya akan memberikan harga yang berbeda.

 

Pada saat ini kayu sonokeling yang terdapat di kebun – kebun masyarakat masih ada walaupun jumlahnya terus berkurang. Masyarakat perlu sadar bahwa penanaman kayu ini tetap harus dilakukan agar pasokan tetap terjaga. Peran pemerintah sebenarnya diharapkan dalam mendukung upaya budidaya kayu ini. Disamping akan memberikan devisa juga akan memberikan pengasilan bagi masyarakat desa. Indonesia memang menjadi paru – paru dunia, namun bukan berarti kita tidak boleh memanfaatkan kayu yang kita tanam. Asal dikelola dengan baik, fungsi paru – paru dunia akan terjaga. Inovasi dalam budidaya kayu yang bernilai tinggi ini selalu diharapkan dengan tujuan memberikan manfaat terbaik bagi alam dan manusia.

Add Comment Add yours ↓

Your Comment